Mari Membangun Desa….

Posted: 16 Desember 2010 in Jeritanku, Sekitarku
Tag:, , , , , ,

    Lama ga posting-posting…. kangen juga pengen nulis apa yang aku rasakan dan aku bayangkan atau mungkin juga yang aku cita-citakan tentang desaku yang kini sepi yang ditinggal anak mudanya, yang ada hanya tinggal orang tua dan anak-anak. Menjadi desa yang produktif dan berswasembada pangan sehingga ketahanan pangan yang dicita-citakan pemerintah dapat tercapai.

    Entah kemana perginya pemuda-pemudi harapan bangsa? Yang pasti mereka bukan pergi ke sawah atau ke ladang, karena mungkin mereka sudah tidak punya ladang dan sawah untuk ditanami, atau tidak ada harapan lagi pada lahan yang dulu menghidupi orang tua mereka. Aku kangen waktu aku kecil melihat pagi buta pemuda desa pergi ke sawah untuk membajak atau “ngawaluku” sawah dengan menggiring kerbaunya.  Ibu-ibu dan anak-anak gadis berjalan beriringan kebersamaan ciri khas orang desa dengan memakai tutup kepala yang di desaku dinamakan dudukuy melintas depan rumah pergi ke sawah untuk menanam padi, menyiangi rumput (ngoyos) ataupun pada masa penen tiba,  entah kemana semua itu sekarang…. Semua telah berubah. Hamparan sawah yang dulu menguning kini berubah menjadi lahan yang tandus atau beralih fungsi yang diatasnya berdiri sebuah bangunan. Ladang yang dulu hijau kini berubah menjadi tak terurus. Mungkin benar walaupun katanya sudah ada Undang-undang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (PLP2B) tapi agaknya sulit untuk diterapkan oleh Pemerintah, karena pemerintah sendiri bingung, lahan mana yang mesti ditetapkan menjadi lahan tetap pertanian. Dan kata orang juga, katanya ada 100 ribu hektar per tahun lahan pertanian di negeri ini yang dikonversi, berubah fungsi.

    Mengapa yang muda yang mestinya membangun desa harus pergi? Banyak faktor yang melatarbelakangi mereka pergi dan mengadu nasib di kota sebagai pekerja non formal misal buruh pabrik, petukang, dll.  Coba deh tanya sama anak-anak sekarang tentang cita-cita mereka, mereka tidak ada satupun yang bercita-cita menjadi seorang petani. Pasti mereka bercita-cita jadi dokter, pilot, ABRI, dll. Mereka khususnya generasi muda beranggapan bahwa menjadi petani itu adalah pekerjaan yang tidak menjanjikan kesejahteraan, karena mereka melihat pada diri orang tua mereka sendiri yang hidup sederhana. Mereka beranggapan ke sawah dan ke kebun khususlah orang-orang tua yang melakukannya. Pemikiran itulah yang membawa mereka pergi meninggalkan desa untuk mencari penghidupanyang lebih baik, ga ada yang salah dengan semua itu. Tapi untuk mengembalikan desa sebagai sumber ketahanan pangan maka peran pemerintah sangat diharapkan untuk menarik kembali mereka yang hidup terlunta-lunta atau hidup pas-pasan di kota dengan pekerjaan yang tidak layak kaya yang yang punya blog ini…. haha… atau para TKI/TKW yang hidup dihina dan direndahkan di negara orang, untuk bersama-sama membangun desanya kembali. Trus kalo semua pergi ke kota lalu siapa yang jadi petani….???

    Melalui Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan banyak program pemerintah yang dijalankan salah satunya adalah Sarjana Membangun Desa (SMD) yang sekarang sedang dilaksanakan dan lain-lain.  Di bidang permodalan atau penyaluran kredit pemerintah juga mengeluarkan program KUR, Program Pengembangan Usaha Agribisnis Pertanian (PUAP), dll yang diharapkan akan meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat desa khususnya para petani. Selain itu juga pemerintah harus bisa menjamin ketersediaan pupuk dan bibit dengan harga yang murah serta adanya asuransi atau penggantian modal bila panen gagal akibat cuaca, bencana alam atau lain sebagainya, pemerintah harus bisa menjamin itu semua. Disamping itu SDM dari para petani juga harus ditingkatkan baik melalui pelatihan dan keterampilan seperti program magang, penyuluhan-penyuluhan, pelatihan-pelatihan maupun sekolah-sekolah lapangan, pemerintah juga harus bisa menyediakan lahan, selain itu semua harus adanya infrastruktur yang memadai sehingga diharapkan akan tercapainya kesejahteraan para petani. Sehingga akan adanya perubahan main set petani dari pertanian tradisional ke pertanian modern yang berwawasan agrobisnis. Karena melihat peluang di bidang pertanian yang begitu luas. Malu dong… masa tanah air kita yang katanya gemah ripah loh jinawi, yang saya kira negeri kita masih negeri agraris ini mesti ngimpor hasil pertanian dari negara lain. So ga ada alasan lagi hijrah ke kota yang akan mengakibatkan permasalahan sosial di kota. Dengan pemenuhan persyaratan dan kebutuhan petani tersebut mudah-mudahan kesejahteraan petani dapat meningkat dan tidak ada lagi orang-orang desa pergi ke kota. Mari kita membangun desa….!!

    Tinggalkan Balasan

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

    Connecting to %s